Merefleksikan Pendidikan

Yup, saya baru menyelesaikan quarter pertama saya sebagai mahasiswi Stanford University! Tiga bulan ini sangat berarti buat saya – saya melihat kultur yang berbeda, mengadaptasi cara pandang yang berbeda, merasakan gaya pendidikan yang berbeda. Dalam post ini saya ingin berbagi aspek-aspek pendidikan Stanford yang mengesankan saya, refleksi saya terhadap pendidikan yang saya dapat di Indonesia sebelumnya dan apa yang saya harap bisa diterapkan di Indonesia.

Read more of this post

US College Application Essay

Belakangan ini saya beberapa kali ditanya teman2 tentang proses aplikasi ke US universities, terutama tentang proses penulisan esai. Saya agak kesulitan menjawabnya di chat atau di email karena rasanya banyak yang saya ingin share tentang topik ini – pengalaman saya sendiri, pengalaman kakak2 kelas yg saya tahu, dan apa yang ‘I wish I know’ tahun lalu. Mudah-mudahan membantu, dan feel free to ask or add di bagian comments! saya sesama murid, jadi take this advice with a grain of salt🙂

essay adalah bagian penting dari aplikasi ke universitas US – inilah satu2nya tempat kamu bisa ‘berbicara’ ke orang-orang yang membaca aplikasi kamu. Ini tempat menunjukkan personality kamu, dan buat banyak orang, satu-satunya bagian aplikasi yang masih bisa kamu ubah di saat terakhir submission. di universitas2 seperti Stanford, banyak yang bilang essay adalah salah satu komponen terpenting, dibandingkan nilai rapor sekolah.


Sebelum/selama menulis, carilah orang-orang yang mau membaca dan mengkritik essay kamu, a.k.a. proofreader (lihat bawah). Sisihkan sedikitnya 1 bulan sebelum deadline submission; tahun lalu,  saya mulai nulis first drafts untuk aplikasi yang due November sekitar liburan Lebaran (pertengahan September). First draft ini bisa banyak untuk masing-masing prompt, untuk aplikasi Stanford saya punya at least 2 draft dengan topik berbeda untuk setiap prompt. Coba biarkan 1-2 hari, lalu baca lagi untuk liat objectively apakah essay itu masih make sense, dan sesuai dengan citra diri yang mau kamu convey ke admission officers. Setelah itu, kirim essay itu ke proofreaders. Roughly, coba perbaiki / revisi essay2 itu seminggu sekali, setelah dapet feedback dari proofreaders. Sekitar 2 minggu sebelum deadline, baiknya kamu udah settle dengan 1 draft (tadinya mungkin kamu punya lebih dari 1 opsi topik/draft) untuk masing-masing prompt, supaya lebih fokus.

Kebanyakan orang punya gambaran tentang ‘level optimisme’ mereka terhadap universitas2 yang mereka daftar. Mari kita bagi jadi Reach (kamu pengen, tapi kok kayaknya sulit) Match (kayaknya cocok dengan kemampuan kamu) dan Safety (yakin pasti diterima). Bagi waktu kamu secara proporsional ke ketiga grup ini – saran saya : dedikasikan paling banyak waktu untuk sekolah-sekolah High Match – Low Reach, dan paling sedikit untuk Safety. biasanya kamu bisa pake lebih dari 1 essay untuk lebih dari 1 universitas dan ‘recycle’ essay itu dengan ganti2 nama, atau references (hasilnya jadi lebih general dan less specific)… lebih baik recycling untuk safety school daripada ke match atau reach schools.
Read more of this post

Summer Reading

Brave New World ( 1932), Aldous Huxley. Amazon

Brave New World Revisited (1958), Aldous Huxley. Amazon

Animal Farm: A Fairy Story (1946), George Orwell. Amazon

Nineteen Eighty-four (1949), George Orwell. Amazon

In Hitler’s Bunker: A Boy Soldier’s Eyewitness Acount of the Fuhrer’s Last Days (2005), Armin D. Lehmann & Tim Carroll. Amazon

Globalization and Its Discontents (2002), Joseph Stiglitz. Amazon

Strength in What Remains (2009), Tracy Kidder. Amazon

The Spirit Catches You and You Fall Down: A Hmong Child, Her American Doctors, and the Collision of Two Cultures (1997), Anne Fadiman. Amazon

I’m glad college has exposed me to types of books I haven’t tried to before. Turns out I like them a lot! This has been quite a thought-provoking summer. “Brave New World” and “Nineteen Eighty-four” are two readings for my first class at Stanford, “Technological Visions of Utopia” – two books that lead me to read other titles from the same author. The only ‘holiday task’ from Stanford is reading one short story and two books, namely “Strength in What Remains” and “The Spirit Catches You and You Fall Down“. We will have discussion with the authors at Orientation.

It occurred to me that Indonesian school system has been terribly undervaluing the benefits of assigned reading. It’s rare in the first place. When we did have a reading, tasks will be on language (synopsis, etc) , largely ignoring the topics and contents it brought forward. Books are perceived merely as a matter of language and not as a provoker of new ideas and thoughts. Somehow we are educated to read for the sake of the story itself, and not for the meaning behind it.

Read more of this post

OSN 2010

Akhirnya, Olimpiade Sains Nasional 2010 dimulai besok! Kalau tiga tahun lalu saya datang sebagai peserta, tahun ini saya ikut di kontingen OSN sebagai fasilitator / pelatih tim Informatika DKI Jakarta. Kalau koneksi internet memungkinkan, saya akan blogging daily di post ini tentang day-to-day OSN tahun ini, khususnya tentang OSN Informatika, dan mungkin akan livetweet (follow @angelinavj) juga.

Downloads :
Daftar Gold Medalist + Nilai
Daftar Silver Medalist + Nilai
Daftar Bronze Medalist + Nilai
Daftar Perolehan Medali per provinsi

===watch this space for updates===

Pelatihan Pra-OSN (DKI)

08/01 > Arrival

08/02 > Opening Ceremony, Practice Contest

08/03 > Contest Day 1

08/04 > Contest Day 2

08/05 > Excursion

08/06 > Medal Awarding


Human – Robots

Of all application essay topics, Stanford’s intellectual vitality essay was by far the hardest topics to write for me. I wrote many drafts on three themes, that, despite the effort, still resulted in what I thought as my worst essay. Well, this piece was the first theme I wrote on this topic. A friend commented that this would look very shallow compared to US students’ similarly-themed essays, as unlike here in Indonesia, they read heavy philosophical book (Nietszche and the like). Hence I scrapped this.

The questions in last paragraph still intrigued me, though. What do you think?

*On a side note, I’m wondering why Indonesian schools don’t assign more required readings – mind-provoking ones, not The Lord of the Rings. Heh.


“Stanford students are widely known to possess a sense of intellectual vitality. Tell us about an idea or an experience you have had that you find intellectually engaging. “

“What makes computers or robots different from human? Will the advancement of technology overcome that difference someday?” asked my religion teacher.

Read more of this post

Souvenirs from the IOI

When I was a tenth grader, a senior said : “Olympiad : two days of headache and five days of holiday!” He’s right. Nervousness of medal allocation aside, the last days of Olympiad is just that : talking with people, taking pictures and exchanging stuff. Souvenir exchange in Zhautykov is much more… extensive than the IOI: we (led by an enthusiastic team leader) literally knocked at almost everyone’s room. Stuff exchange is fun; a friend once gave 5000 rupiahs as a souvenir to a Kazakh who freaked out without realizing that it’s only half a dollar. LOL poor us Indonesians.

so, in this post I’ll share some pictures of the IOI souvenirs I got🙂

Read more of this post

Pengumuman OSP 2010

Berikut pengumuman peserta yang lolos OSP 2010, untuk bertanding di OSN 2010 Medan (sumber : :

Buat yang belum lolos jangan kecewa dan kecil hati, terus belajar ya😉 Buat yang lolos, selamat belajar lagi untuk tantangan lebih besar di OSN nanti! Go get gold🙂